Minggu, 14 April 2019

Pengalaman Menjelajahi Nusapenida - Crystal bay Beach Part 3

Setelah puas menikmati pemandangan Broken Beach kami bertiga langsung cuuzz menuju spot wisata terakhir. Perjalanan ke tujuan terakhir, yaitu Crystal Bay Beach tidak ada bedanya, masih melewati jalanan yang terjal dan berliku, malah bagi saya terasa parah, karena harus terhenti beberapa kali karena konvoi padet kendaraan yang searah maupun berlawanan arah, bahkan jalannya ada yang mendaki terjal dengan sudut kemiringan yang lumayan bikn was was, tak ayal sepanjang perjalanan saya berkomat kamit terus, berdoa memohon dilancarkan dan diberi keselamatan. 

Akhirnya, setelah memacu adrenalin bermenit menit, kami sampai di tempat makan yang dipilih oleh bli ktut. Tempatnya di bukit, lumayan bersih tapi sayang ga ada air kelapa. Jadi, terpaksa mengobati haus dengan jus melon, karena air putih sudah ga mempan lagi. oh ya, di warung ini, harganya lumayan mahal, apalagi saat pesen mie goreng itu, ternyata indomie goreng pake ceplok telur dan harganya 40k, subhanallah :)

Tempat makan halal Nusapenida


Jadi, yang udah ada rencana ke nuspen, sebaiknya uang sakunya dilonggarin, karena makanan di sana tergolong mahal dan dengan cuaca yang panas terik, kemungkinan sering banget minum.

Akhirnya, sampai juga di Pantai Crystal Bay, Kesan pertama, langsung teringat akan sebuah panorama pantai di Thailand, heheeh belum pernah kesana sih, cuman di berbagai macam kesempatan sering melihat panorama pantai seperti itu. Indah, pokoknya :)

Crystal Bay Beach Nusapenida

Rabu, 10 April 2019

Pengalaman menjelajahi Nusapenida - Broken Beach, Angels Bilabong Part 2

Setelah hore hore kesenengan di  Kelingking Cliff, yang menurut saya sih malah lebih mirip T-Rex Cliff, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata selanjutnya. Angels Bilabong dan Broken Beach. Tentu saja, dengan medan jalan yang terjal dan lika liku mendaki, skill bli ktut dalam mengendalikan kendaraan lumayan membantu, sehingga kami bisa melewati perjalanan dengan lancar, hambatannya ya kalau harus berpapasan dengan mobil lain di jalan yang nge pas banget. Atau antrian karena konvoi mobil yang melambat di tanjakan ataupun turunan. Seru wis to..

Dan, semuanya juga terbayar. Saat sampai tujuan. Langsung lupa gimana susahnya perjalanan menuju ke spot ini. Karena begitu sampai, langsung disambut pemandangan yang emang udah dibayangkan sebelumnya. Angels Bilabong dan Broken Beach ternyata lokasinya dekat, tetanggaan. Dan bli ktut menyarankan kami untuk ke Angels Bilabong dulu. Tanpa babibu, kami langsung berbaur dengan para wisatawan lain yang sedang menikmati dan mengagumi keunikan angels Bilabong.

Angels Billabong Nusapenida di Saat Surut

Angels Billabong Nusapenida di Bulan April

Dulu, saat hanya bisa memandang foto foto di instagram sempet menghayalkan untuk berenang di cerukan yang terkenal dan bening itu. Instagenik, memang. Cuman, setelah sampai sana, saya urung mencobanya. Jangankan berenang, untuk turun ke bawah dan main air pun enggan, karena jalan turun ke ceruk sedang di tutup. Dan ternyata banyak sekali orang diatas, memainkan kameranya kesetiap object yang menarik.

Padahal kalau di beberapa foto yang saya lihat, terkesan sepi. Dan beberapa wisatawan tampak dengan santai mengapung di cerukan bening tersebut. Mungkin, kalau saya datang sedikit lebih sore, bisa jadi lebih sepi ya? tapi rasanya sih tidak. Ya sudah, tetep saja udah hepi bisa melihat langsung keunikan cerukan Angels Billabong, dan indahnya pemandangan alam sekitar.

Cerukan Angels Billabong Nusapenida

Bagus sekali kan, beruntung sekali bisa kesana di saat airnya surut dan ceruknya terlihat bening,  kadang kalau musim hujan, cerukan itu airnya keruh dan saat air pasang cerukan itu tidak terlihat. Jadi, sebaiknya datang saja saat musim kemarau atau kata bli ktut ya pas bulan april ini.

Saat itulah air sedang surut dan cerukan yang bening dan instagenik bisa terlihat. Memang Indah sih, tanpa sadar, dalam hati berdzikir mengagungkan namaNya, sang maha pencipta. Panasnya siang hari jam 11 an tidak menyurutkan kami, pemuja pantai untuk tetap berdiam diri dan sesekali mengabadikan moment dan juga sudut pemandangan yang indah. Driver Ktut, menawarkan untuk membantu kami berfoto sesi sehingga ada kenangan di tempat ini, baik banget bli ktut, bak fotografer profesional mengambil gambar kami beberapa kali. hasilnya? bagus lah..hehehe apalagi kalo pakai drone, sudah pasti ciamik!

Angels Billabong Nusapenida



Angels Billabong di Bulan april

Angels Billabong di Bulan April


Setelah cukup menikmati Angels Billabong, kami beringsut menuju Broken Beach. Saya harus mengakui, pantai ini diluar ekspektasi, maksud saya, yang saya lihat langsung ternyata lebih bagus daripada yang ada di foto2 sosmed. Syukurlah, saya tetap milih pantai ini menjadi salah satu spot wisata tujuan. 


Jalan Menuju Broken Beach

Jalan Setapak Menuju Broken Beach Nusapenida

Meskipun dekat, tapi sedikit beda mungkin karena jalan untuk menuju pantai Broken Beach tidak terlalu jauh, lebih teduh, melewati semacam hutan kecil dengan jalan setapak yang ramai oleh lalu lalang wisatawan. Dan diujung jalan itulah keindahan pemandang Pantai Broken Beach bisa dinikmati.

Pantai Ngehits Broken Beach Nusapenida

Sedikit cerita tentang Broken Beach ini, atau nama dalam bahasa Bali adalah Pasih Uug. Legenda yang hidup dan diceritakan dari mulut ke mulut mengenai pantai ini sampai juga ditelinga saya, bli ktut bercerita bahwa awalnya area yang sekarang jadi broken Beach ini adalah bukit, tempat tinggal beberapa keluarga petani. Suatu hari, seorang petani ingin menanam biji jagung. Dengan sebuah alat kayu, petani itu membuat lubang pada sebuah bidang tanah. Namun, entah mengapa saat petani tersebut menancapkan kayunya, sesuatu terjadi, tanah itu longsor. Dan jadilah yang sekarang dinamakan pasih uug, atau yang terkenal dengan sebutan Angels Billabong.

Penasaran juga dengan keselamatan petani yang menanam biji jagung tersebut beserta bebepa keluarga petani itu, cuman entah apa yang membuat saya teralihkan sehingga melewatkan pertanyaan itu. Mungkin juga karena pemandangan alamnya yang indah, so breathtaking. Tidak banyak komentar yang terucap, saya sibuk mengagumi pantai ini dan explore sambil mencoba mengabadikan moment di beberapa sudut pantai. Berbaur bersama wisatawan lainnya.










Puas mengeksplorasi kawasan Broken Beach dan menikmati suasana pantai ini, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata selanjutnya, yaitu Crystal Beach Bay. Tidak lupa, sebelum melanjutkan kami istirahat rolasan dulu. Biar tidak terlalu panjang, pengalamannya saya tulis dibagian terpisah ya, sampai ketemu di lanjutan story explore Nusapenida selanutnya :)

Senin, 08 April 2019

Pengalaman menjelajahi Nusapenida - Kelingking Cliff Part 1

Nusa Penida, konon, sedang naik daun. Dengan Kelingking Cliff nya sebagai ikon. Banyaknya wisatawan yang berbondong bondong kesana, - sayangnya, masih didominasi wisatawan mancanegara - menunjukkan bahwa hal itu bukan isapan jempol semata. Bahwa, Nusa Penida menjadi daya magnet baru bagi pariwisata di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Dan saya salah satu yang begitu tertarik dan tergoda dengan keindahan Nusa Penida yang fotonya berhamburan di feed travel instagram. Akhirnya setelah sejak tahun lalu memendam rasa, saya berkesempatan liburan, #weekendgateway ke Nusapenida. Seperti biasa, setelah ada planning kesana, biasanya langsung survey, tanya tanya mbah google, dan membaca kisah pengalaman mereka yang sudah kesana. Dari informasi yang sudah terkumpulkan dan realita kondisi saya dan suami, fix, akhirnya memutuskan untuk ikutan paket one day private tour Nusapenida Balicili.

Kelingking Cliff Nusapenida Bali


Selain Nusapenida, masih ada Nusa Lembongan dan Nusa ceningan, namun diantara tiga nusa tersebut  Nusapenida termasuk tertinggal dalam pembangunan infrastruktur, meskipun saat ini Nusapenida sedang menjadi Rising Star di dunia pariwasata Bali. Jadi misalnya sudah memutuskan untuk ngetrip ke Nusapenida, ada baiknya mengenal lebih jauh tentang pulau Nusapenida ini.


Minggu, 24 Maret 2019

Beach Club Artotel di Sanur

Sepekan lalu, jalan jalannya puas banget, cuci mata di pasar seni ubud, setelah itu meluncur turun ke sanur, menikmati pemandangan pantai sambil ngadem di beach club Artotel. Iya, memang seniat itu, karena tidak setiap weekend, Pak Su bisa menemani jalan jalan. Sharing pengalaman ke pasar seni ubud pekan lalu bisa diikuti  disini ya.

Ceritanya, setelah puas ngiderin pasar seni Ubud, kami memutuskan untuk kembali turun, makan siangnya di daerah Sanur. Saat itu, udara siang Bali memang sedang panas, bahkan ketika masih di daerah Ubud pun sudah terasa. jadi, idenya sih pengen ngadem, istirahat sekaligus makan siang tapi masih bisa nongki cantik dengan pak Su. Seperti nyambung dengan apa yang sedang saya pikirkan, Pak Su mengarahkan perjalanan ke Sanur dan langsung deh, masuk ke Beach Club Artotel. Dari situ saya sudah tau mau diajak nongki cantik di dekat pantai, Alhamdulillah. Pengalaman wisata kuliner yang baru lagi.



Begitu masuk lobby beach club Artotel Sanur, kami sudah disambut oleh salah seorang karyawan, menanyakan berapa orang sambil mengarahkan kami pada sebuah meja kursi di samping kolam renang. Tadinya mau milih yang deket pantai, tapi kok terlihat panas ya, meskipun ada kanopinya, jadi tetap ambil yang di dekat kolam renang. Adem.

Beach Club di Sanur Bali

Bagi muslim traveller yang emang ketat soal makanan dan menghindari restoran yang ada menu pork nya, beach club ini bukan pilihan. Karena, ternyata menunya ada yang mengandung pork (daging babi). Tapi, beberapa menu yang disajikan merupakan makanan vegan dan healthy food yang mungkin masih bisa dimakan. Seperti saya saat itu memilih menu vegan, bakmi goreng ala thailand yang gluten free dan whole coconut alias air kelapa. Sedangkan Pak Su memilih splash orange dan burger. Sekilas review makanannya, menurut saya okay, lumayan enak. Terutama bakmi gorengnya, kalau burgernya sih kurang sesuai sama lidah saya heheh

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Beach Club Sanur Bali

Bagi pecinta beach club, pasti udah tau rasanya leyeh leyeh menikmati hidangan makanan sambil menikmati pemandangan pantai. Namun, kalau sudah pernah ke Rock Bar ataupun Woo Bar, beach club ini masih terasa biasa. Tapi jangan mengkerut dulu ah, salah satu kelebihan beach club ini adalah lebih ramah anak, karena selain kolam reangnya yang deket dengan meja kursi makan, kemudian ada penjaga khusus untuk mengawasi anak anak yang sedang berenang, di beach club ini ada area bermain anak anak yang lumayan luas. Sehingga mereka bisa bermain sepuasnya. Sementara orang tua mengawasi sambil cemal cemil dari jauh #lah
Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali


Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali

Di area ramah anak ini nuansanya lebih menghijau, dan teduh jadi memang lebih nyaman untuk anak anak bermain meskipun suasana sedang panas. Saat itu, kebetulan ada bazaar, jadi terlihat ramai, cuman saya tidak sempat masuk ke area tersebut. Saya dan Pak Su mlipir ke pantai, meskipun lagi panas cuacanya, senengnya memang cari masalah yah...

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Terlihat terik sangat ya, saat kami kesana memang tengah hari, waktu yang sangat tidak direkomendasikan untuk ke pantai, kecuali memang ingin membakar kulit hehehe. Kalaupun terpaksa ke pantai bisanya siang hari sebaiknya, wajah dan kulit tangan maupn kaki sudah diolesi salep khusus atau sunblock, pakai baju lengan panjang, topi dan kaca mata hitam. Sehingga bisa meminimalisir ketidaknyaman saat menikmati pantai.



Selasa, 19 Maret 2019

Jalan jalan ke pasar seni ubud

Ubud, terkenal dengan udara pegunungannya yang sejuk dan segar dengan pemandangan alamnya yang hijau. Pemandangan sawah berundak juga termasuk spot berfoto favorit bagi wisatawan manca maupun domestik. Tidak heran ya, kalo ubud selalu menarik untuk dikunjungi.

Weekend kemarin, saya sempatkan jalan jalan ke ubud, tapi perjalanan kali ini bukan untuk melihat sawah ubud yang masyur itu, rencananya ke pasar, pasar seni ubud tepatnya, mumpung ada kesempatan, karena tidak setiap weekend bisa jalan jalan, jadi begitu ada kesempatan, cuzz lah yaaa :) 

Pasar Seni Ubud terletak di Jalan Raya Ubud no 35. Jika berangkat dari denpasar, waktu yang ditempuh sekitar satu jam, dengan jarak tempuh 23,7 km. Jika berangkat dari kuta, waktu yang ditempuh bisa mencapai kurang lebih 1 jam 8 menit sejauh 34,1 km, sedangkan jika berangkat ke ubud dari canggu bisa lebih cepet, yaitu kurang lebih 55 menit dengan jarak tempuh 28,2 km. Tapi, kalo dari Seminyak, waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam an 9 menit menempuh jarak 30 km. Tentu saja, itu semua masih perkiraan, kalau sudah jalan, akan dipengaruhi juga kondisi jalan raya dan cuaca, apalagi jika menggunakan motor biasanya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Apalagi jalan di sekitaran ubud biasanya sempit dan seringnya macet.


Pasar Seni Ubud

On Instagram

© Happylikeabee. Made with love by The Dutch Lady Designs.