Senin, 30 Desember 2019

Pengalaman melepas alas kaki saat wisata kuliner di Clear Cafe, Ubud

Semenjak pindah dari Denpasar dan tinggal di Bali bagian atas, jalan jalan ngeMall dan Nonton jadi berkurang. Meskipun sesekali turun gunung untuk bela belain nonton film Battle Of Midway di Trans Studio Mall, Denpasar. Tapi meskipun begitu, ada pelipur hati yang tetep bikin hepi, yaitu masih bisa wiskul dan icip2 makanan di cafe2 unik dan hits di Ubud.

Seperti salah satu cafe yang minggu lalu saya kunjungi bersama Pak Suami. Cafe unik ini mewajibkan pengunjung untuk melepas alas kakinya sebelum masuk, sepatu atau sendal ditaruh di tas yang sudah disediakan cafe lalu dibawa oleh pengunjung masuk. Makanya, ada antrean yang terlihat karena harus menunggu pengunjung satu dan lain beres2 dengan sendal atau sepatunya. Sabarrr yaaa heheeh. Lokasi cafe ini ada di Jalan Hanoman, Ubud. Salah satu yang ramai dengan toko2 souvenir dan cafe2 disepanjang jalannya. Tidak heran kalo sepanjang jalan ini hampir selalu macet, terutama di saat jam menjelang waktu makan.



Rabu, 06 November 2019

Brunch di Kopi Bali, Icip icip cake di Kakiang Bakery

Kalau hari minggu, dan ada waktu untuk jalan jalan biasanya seringnya sih jadi wisata kuliner. Dan, minggu lalu qadarallah, suami dimintai tolong menjemput teman kantor, Bapak P di bandara. jadi lah kami turun gunung, meluncur ke bandara Ngurah Rai, waktu penjemputan sih pagi, jadi kami hanya makan roti saja buat sarapan. Tapi ya namanya rejeki ya, dalam perjalanan ke tempat Bapak P, kami malah ditraktir sama beliau  Brunch rame rame di Kopi Bali, soalnya kata Bapak P, penerbangan beliau yang menggunakan maskapai garuda cuman dikasih omelet ukran kecil yang tidak mengenyangkan beliau yang berbadan besar ehhe, jadinya, brunch di Kopi Bali jadi pilihan untuk menenangkan perut yang masih lapar.


Cafe Hits Bali

Kopi Bali Kuta


Kopi Bali sendiri sih tempat makan yang sudah lumayan familiar karena beberapa kali berkunjung ke tempat itu, cuman kali ini makannya ditraktir sama Bapak P. Karena Brunch, yah pilihan menunya ikutan yang sarapan, menu untuk Lunchnya belum tersedia. Jadi, saya pilih menu ala ala western gitu, lupa namanya tapi sajiannya berupa omelet, kentang goreng, tomat di bakar, sosis, roti dan sayuran. Nyam nyam..lumayan enak, kan ditrakatir heheh. Alhamdulillah.




Jumat, 18 Oktober 2019

Saturdate di Bebek Tebasari, Lodtunduh, Ubud

Kali ini mau share tempat makan yang instagenik di Lodtunduh, Ubud, meskipun tempatnya terkesan di daerah pinggiran, tetapi sebenarnya, tempat ini sangat recommended bagi pecinta wisata kuliner yang tidak hanya fokus pada makanannya yang enak tapi juga peduli pada ambience dan spot yang instagenic.

Kuliner di Ubud


Bebek Tebasari nama tempatnya. Lokasinya di LodTunduh, Ubud.

Tidak banyak perbedaan dengan banyaknya restoran dan cafe di Ubud yang menjadikan pemandangan sawah sebagai nilai tambah untuk memanjakan mata tamu yang datang. Sambil menikmati berbagai macam menu yang disajikan. Meskipun begitu, interior dan exterior Bebek Tepasari, menurut saya elegan, tidak berlebihan dan bernuansa tradisional ditunjang dengan saung saung yang berderet di tepi kolam ikan dekat area persawahan. Semakin menjadikan Resto bebek Tebasari Paket komplit untuk menikmati suasana. Apalagi pada saat hamparan sawah itu sedang menghijau, seger banget kesannya!

Nah, di area bawah itu, ada juga selfie area yang pasti tidak begitu saja dilewatkan. Sambil menunggu pesanan makanan datang. Jadi, ga perlu mati gaya dan mainin hp saja, oh iya, sebelum turun ke area selfi, pastikan snack dan welcome drink nya dinikmati dulu yaa, dan wajah yng seharian capek berdebu karena keliling ubud bisa dibasuh dengan handuk hangat yang sudah disediakan. Manjain banget :)

                           Cafe Hits Ubud



Kuliner Bali



Menu menu yang ditawarkan Restoran bebek Tebasari ini merupakan paduan berbagai macam masakan tradisional maupun western. Dari pasta, burger, sampai dengan nasi goreng dan menu bebek andalan. Minumannya juga banyak variasinya, dan meskipun ada beberapa varian yang mengandung alkohol, tetap ada kok pilihan minuman yang free alkohol, bahkan teh tarik pun ada, yah meskipun namanya beda, tapi intinya teh tarik aja heheh

Oh iya, sekedar melengkapi informasi, resto bebek tebasari ini juga menyediakan makanan yang mengandung pork, jadi bagi teman teman muslim yang concern dengan halal tidaknya makanan silakan dipertimbangkan. Beberapa mungkin langsung balik kanan bubar jalan, mencari opsi tempat makan lain, tapi mungkin ada juga yang masih tetap masuk dengan niat di hati tidak akan memilih menu makanan yang mengandung pork.

Kuliner di Ubud


Cafe Hits Ubud



Dalam kasus saya ini, biasanya saya dan suami lebih memilih tempat makan yang free pork, biasanya juga, sebelum memilih tempat makan, pasti cari tau dulu, ngulik di internet, menu dan harganya heheh, termasuk cari yang pork free, cuman karena saat itu kami go show karena satu dan lain hal, jadi tahunya setelah membuka buku menu. Tapi, shocking momentnya bukan masalah menunya sih, karena setelah hampir tiga tahunan tinggal di Bali, tidak terlalu kaget, karena, memang banyak restoran yang menyajikan makanan dengan menu pork, berbeda misal saat berwisata kuliner di Yogyakarta. 

Sekali lagi, yang bikin senyum senyum kecut, adalah harga rata rata makanan yang ada di daftar menu mahal sekali. Bahkan untuk mendapatkan makanan yang paling murah pun masih berkisar 80an ribu rupiah, glek! Segelas Teh Tarik seharga 36k rupiah uwoooo, tapi tidak mengapa, ikhlas sih suami bayarinnya ( semoga heheh ) karena emang pada saat kesana ada sesuatu yang harus dirayakan, ( dadakan, out of plan) itung2 self regard buat kami berdua. Cuman lain kali, musti research dulu lah yaaaa, seperti biasanya hehehe

Cafe Hits Bali

Jadi begitulah share pengalaman makan di Resto Bebek Tebasari. Tentu saja pengalaman ini bersifat subyektif, jadi tidak ada salahnya kok tetap dicoba dan dibuktikan sendiri. Sekedar mengingatkan, menu Karinya porsinya sangat banyak menurut saya jadi siap siap ya..tapi enak kok :)





Selasa, 08 Oktober 2019

Weekend Gateway di Akasha Restaurant Ubud

Seneng sekali menemukan tempat ini, cocok dengan apa yang saya butuhkan saat weekend lalu. Bisa buat detox hati dan pikiran saking nyamannya :) di restaurant ini, suasananya sangat tenang dan tentu saja instagramable. Bagi yang suka banget pose pose dan berfoto sesi, selamat! Tempat ini sangat recommended.

Jadi, tempat makan ini letaknya dekat dengan persawahan yang luas sehingga kita bisa duduk duduk santuy, menikmati hijaunya padi dan suasana desa yang masih asri. Pada saat saya dan suami kesana, makan siang, tidak banyak pengunjung yang datang, hanya ada keluarga kecil bule, dua pasang turis asia dan sekelompok bule yang penampilannya sangat unik. Jadi, suasananya terasa intimate dan tenang. Sesekali tabung bambu yang bergelantungan, bersentuhan diterpa angin, berbunyi, sehingga semakin kental terasa suasana pedesaan yang tentram.

Cafe Instagramable Ubud

Kamis, 03 Oktober 2019

Hahndorf, Kota Rendezvous

Throwback, menjelang akhir tahun 2015, saya berkesempatan mengunjungi Handorf, di Adelaide, South Australia. Kota ini salah satu kota yang sangat ingin saya kunjungi, ketika saya dapat konfirmasi bepergian ke Adelaide. Awalnya, saya membaca sebuah artikel tentang Handorf, sebuah kota kecil yang masih mempertahankan suasana tradisional warga keturunan Jerman di negara Australia selatan ini. Dari ulasan dan foto foto yang terpampang, fix, Handorf  masuk dalam itinerary.

Hahndorf South Australia

Alhamdulillah, cita cita saya terkabul. Seingat saya, hari keberangkatan saya menuju handorf bertepatan dengan perayaan menjelang hari Raya Natal di Adelaide yang berupa parade atau semacam karnaval. Disepanjang jalan masyarakat sangat antusias menyambutnya, bahkan jauh sebelum acara di mulai. Kegembiraan warga sudah terlihat, jalan jalan raya yang lengang di hiasi dengan ekspresi corat coret anak anak. Warga mempersiapkan tempat duduk yang nyaman untuk secara maksimal menikmati karnaval.


Rabu, 25 September 2019

Pizza Second Floor Ubud

lama absen bukan berarti tidak ada sesuatu yang ingin di bagikan, tapi diantara semua pengalaman selama ini, sepertinya lagi mood untuk berbagi cerita ringan jalan jalan dan nongky di sebuah cafe di jalan pengosekan Ubud.

Pizza second Floor Ubud


Nah, critanya dua minggu yang lalu, suami dan saya niat banget ngiderin ubud, dari desa mas, lodtunduh, jalan sugriwa, jalan ambarwati, tegalalang, naik turun ubud, seru deh. Rasanya nano nano, excited, deg degan tapi juga capek hehe. Dan akhirnya, saat luch break kami udah kehabisan energi di daerah pengosekan. Segera, suami menghentikan kendaraan di parkiran sebuah cafe.


Minggu, 14 April 2019

Pengalaman Menjelajahi Nusapenida - Crystal bay Beach Part 3

Setelah puas menikmati pemandangan Broken Beach kami bertiga langsung cuuzz menuju spot wisata terakhir. Perjalanan ke tujuan terakhir, yaitu Crystal Bay Beach tidak ada bedanya, masih melewati jalanan yang terjal dan berliku, malah bagi saya terasa parah, karena harus terhenti beberapa kali karena konvoi padet kendaraan yang searah maupun berlawanan arah, bahkan jalannya ada yang mendaki terjal dengan sudut kemiringan yang lumayan bikn was was, tak ayal sepanjang perjalanan saya berkomat kamit terus, berdoa memohon dilancarkan dan diberi keselamatan. 

Akhirnya, setelah memacu adrenalin bermenit menit, kami sampai di tempat makan yang dipilih oleh bli ktut. Tempatnya di bukit, lumayan bersih tapi sayang ga ada air kelapa. Jadi, terpaksa mengobati haus dengan jus melon, karena air putih sudah ga mempan lagi. oh ya, di warung ini, harganya lumayan mahal, apalagi saat pesen mie goreng itu, ternyata indomie goreng pake ceplok telur dan harganya 40k, subhanallah :)

Tempat makan halal Nusapenida


Jadi, yang udah ada rencana ke nuspen, sebaiknya uang sakunya dilonggarin, karena makanan di sana tergolong mahal dan dengan cuaca yang panas terik, kemungkinan sering banget minum.

Akhirnya, sampai juga di Pantai Crystal Bay, Kesan pertama, langsung teringat akan sebuah panorama pantai di Thailand, heheeh belum pernah kesana sih, cuman di berbagai macam kesempatan sering melihat panorama pantai seperti itu. Indah, pokoknya :)

Crystal Bay Beach Nusapenida

Rabu, 10 April 2019

Pengalaman menjelajahi Nusapenida - Broken Beach, Angels Bilabong Part 2

Setelah hore hore kesenengan di  Kelingking Cliff, yang menurut saya sih malah lebih mirip T-Rex Cliff, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata selanjutnya. Angels Bilabong dan Broken Beach. Tentu saja, dengan medan jalan yang terjal dan lika liku mendaki, skill bli ktut dalam mengendalikan kendaraan lumayan membantu, sehingga kami bisa melewati perjalanan dengan lancar, hambatannya ya kalau harus berpapasan dengan mobil lain di jalan yang nge pas banget. Atau antrian karena konvoi mobil yang melambat di tanjakan ataupun turunan. Seru wis to..

Dan, semuanya juga terbayar. Saat sampai tujuan. Langsung lupa gimana susahnya perjalanan menuju ke spot ini. Karena begitu sampai, langsung disambut pemandangan yang emang udah dibayangkan sebelumnya. Angels Bilabong dan Broken Beach ternyata lokasinya dekat, tetanggaan. Dan bli ktut menyarankan kami untuk ke Angels Bilabong dulu. Tanpa babibu, kami langsung berbaur dengan para wisatawan lain yang sedang menikmati dan mengagumi keunikan angels Bilabong.

Angels Billabong Nusapenida di Saat Surut

Angels Billabong Nusapenida di Bulan April

Dulu, saat hanya bisa memandang foto foto di instagram sempet menghayalkan untuk berenang di cerukan yang terkenal dan bening itu. Instagenik, memang. Cuman, setelah sampai sana, saya urung mencobanya. Jangankan berenang, untuk turun ke bawah dan main air pun enggan, karena jalan turun ke ceruk sedang di tutup. Dan ternyata banyak sekali orang diatas, memainkan kameranya kesetiap object yang menarik.

Padahal kalau di beberapa foto yang saya lihat, terkesan sepi. Dan beberapa wisatawan tampak dengan santai mengapung di cerukan bening tersebut. Mungkin, kalau saya datang sedikit lebih sore, bisa jadi lebih sepi ya? tapi rasanya sih tidak. Ya sudah, tetep saja udah hepi bisa melihat langsung keunikan cerukan Angels Billabong, dan indahnya pemandangan alam sekitar.

Cerukan Angels Billabong Nusapenida

Bagus sekali kan, beruntung sekali bisa kesana di saat airnya surut dan ceruknya terlihat bening,  kadang kalau musim hujan, cerukan itu airnya keruh dan saat air pasang cerukan itu tidak terlihat. Jadi, sebaiknya datang saja saat musim kemarau atau kata bli ktut ya pas bulan april ini.

Saat itulah air sedang surut dan cerukan yang bening dan instagenik bisa terlihat. Memang Indah sih, tanpa sadar, dalam hati berdzikir mengagungkan namaNya, sang maha pencipta. Panasnya siang hari jam 11 an tidak menyurutkan kami, pemuja pantai untuk tetap berdiam diri dan sesekali mengabadikan moment dan juga sudut pemandangan yang indah. Driver Ktut, menawarkan untuk membantu kami berfoto sesi sehingga ada kenangan di tempat ini, baik banget bli ktut, bak fotografer profesional mengambil gambar kami beberapa kali. hasilnya? bagus lah..hehehe apalagi kalo pakai drone, sudah pasti ciamik!

Angels Billabong Nusapenida



Angels Billabong di Bulan april

Angels Billabong di Bulan April


Setelah cukup menikmati Angels Billabong, kami beringsut menuju Broken Beach. Saya harus mengakui, pantai ini diluar ekspektasi, maksud saya, yang saya lihat langsung ternyata lebih bagus daripada yang ada di foto2 sosmed. Syukurlah, saya tetap milih pantai ini menjadi salah satu spot wisata tujuan. 


Jalan Menuju Broken Beach

Jalan Setapak Menuju Broken Beach Nusapenida

Meskipun dekat, tapi sedikit beda mungkin karena jalan untuk menuju pantai Broken Beach tidak terlalu jauh, lebih teduh, melewati semacam hutan kecil dengan jalan setapak yang ramai oleh lalu lalang wisatawan. Dan diujung jalan itulah keindahan pemandang Pantai Broken Beach bisa dinikmati.

Pantai Ngehits Broken Beach Nusapenida

Sedikit cerita tentang Broken Beach ini, atau nama dalam bahasa Bali adalah Pasih Uug. Legenda yang hidup dan diceritakan dari mulut ke mulut mengenai pantai ini sampai juga ditelinga saya, bli ktut bercerita bahwa awalnya area yang sekarang jadi broken Beach ini adalah bukit, tempat tinggal beberapa keluarga petani. Suatu hari, seorang petani ingin menanam biji jagung. Dengan sebuah alat kayu, petani itu membuat lubang pada sebuah bidang tanah. Namun, entah mengapa saat petani tersebut menancapkan kayunya, sesuatu terjadi, tanah itu longsor. Dan jadilah yang sekarang dinamakan pasih uug, atau yang terkenal dengan sebutan Angels Billabong.

Penasaran juga dengan keselamatan petani yang menanam biji jagung tersebut beserta bebepa keluarga petani itu, cuman entah apa yang membuat saya teralihkan sehingga melewatkan pertanyaan itu. Mungkin juga karena pemandangan alamnya yang indah, so breathtaking. Tidak banyak komentar yang terucap, saya sibuk mengagumi pantai ini dan explore sambil mencoba mengabadikan moment di beberapa sudut pantai. Berbaur bersama wisatawan lainnya.










Puas mengeksplorasi kawasan Broken Beach dan menikmati suasana pantai ini, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata selanjutnya, yaitu Crystal Beach Bay. Tidak lupa, sebelum melanjutkan kami istirahat rolasan dulu. Biar tidak terlalu panjang, pengalamannya saya tulis dibagian terpisah ya, sampai ketemu di lanjutan story explore Nusapenida selanutnya :)

Senin, 08 April 2019

Pengalaman menjelajahi Nusapenida - Kelingking Cliff Part 1

Nusa Penida, konon, sedang naik daun. Dengan Kelingking Cliff nya sebagai ikon. Banyaknya wisatawan yang berbondong bondong kesana, - sayangnya, masih didominasi wisatawan mancanegara - menunjukkan bahwa hal itu bukan isapan jempol semata. Bahwa, Nusa Penida menjadi daya magnet baru bagi pariwisata di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Dan saya salah satu yang begitu tertarik dan tergoda dengan keindahan Nusa Penida yang fotonya berhamburan di feed travel instagram. Akhirnya setelah sejak tahun lalu memendam rasa, saya berkesempatan liburan, #weekendgateway ke Nusapenida. Seperti biasa, setelah ada planning kesana, biasanya langsung survey, tanya tanya mbah google, dan membaca kisah pengalaman mereka yang sudah kesana. Dari informasi yang sudah terkumpulkan dan realita kondisi saya dan suami, fix, akhirnya memutuskan untuk ikutan paket one day private tour Nusapenida Balicili.

Kelingking Cliff Nusapenida Bali


Selain Nusapenida, masih ada Nusa Lembongan dan Nusa ceningan, namun diantara tiga nusa tersebut  Nusapenida termasuk tertinggal dalam pembangunan infrastruktur, meskipun saat ini Nusapenida sedang menjadi Rising Star di dunia pariwasata Bali. Jadi misalnya sudah memutuskan untuk ngetrip ke Nusapenida, ada baiknya mengenal lebih jauh tentang pulau Nusapenida ini.


Minggu, 24 Maret 2019

Beach Club Artotel di Sanur

Sepekan lalu, jalan jalannya puas banget, cuci mata di pasar seni ubud, setelah itu meluncur turun ke sanur, menikmati pemandangan pantai sambil ngadem di beach club Artotel. Iya, memang seniat itu, karena tidak setiap weekend, Pak Su bisa menemani jalan jalan. Sharing pengalaman ke pasar seni ubud pekan lalu bisa diikuti  disini ya.

Ceritanya, setelah puas ngiderin pasar seni Ubud, kami memutuskan untuk kembali turun, makan siangnya di daerah Sanur. Saat itu, udara siang Bali memang sedang panas, bahkan ketika masih di daerah Ubud pun sudah terasa. jadi, idenya sih pengen ngadem, istirahat sekaligus makan siang tapi masih bisa nongki cantik dengan pak Su. Seperti nyambung dengan apa yang sedang saya pikirkan, Pak Su mengarahkan perjalanan ke Sanur dan langsung deh, masuk ke Beach Club Artotel. Dari situ saya sudah tau mau diajak nongki cantik di dekat pantai, Alhamdulillah. Pengalaman wisata kuliner yang baru lagi.



Begitu masuk lobby beach club Artotel Sanur, kami sudah disambut oleh salah seorang karyawan, menanyakan berapa orang sambil mengarahkan kami pada sebuah meja kursi di samping kolam renang. Tadinya mau milih yang deket pantai, tapi kok terlihat panas ya, meskipun ada kanopinya, jadi tetap ambil yang di dekat kolam renang. Adem.

Beach Club di Sanur Bali

Bagi muslim traveller yang emang ketat soal makanan dan menghindari restoran yang ada menu pork nya, beach club ini bukan pilihan. Karena, ternyata menunya ada yang mengandung pork (daging babi). Tapi, beberapa menu yang disajikan merupakan makanan vegan dan healthy food yang mungkin masih bisa dimakan. Seperti saya saat itu memilih menu vegan, bakmi goreng ala thailand yang gluten free dan whole coconut alias air kelapa. Sedangkan Pak Su memilih splash orange dan burger. Sekilas review makanannya, menurut saya okay, lumayan enak. Terutama bakmi gorengnya, kalau burgernya sih kurang sesuai sama lidah saya heheh

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Beach Club Sanur Bali

Bagi pecinta beach club, pasti udah tau rasanya leyeh leyeh menikmati hidangan makanan sambil menikmati pemandangan pantai. Namun, kalau sudah pernah ke Rock Bar ataupun Woo Bar, beach club ini masih terasa biasa. Tapi jangan mengkerut dulu ah, salah satu kelebihan beach club ini adalah lebih ramah anak, karena selain kolam reangnya yang deket dengan meja kursi makan, kemudian ada penjaga khusus untuk mengawasi anak anak yang sedang berenang, di beach club ini ada area bermain anak anak yang lumayan luas. Sehingga mereka bisa bermain sepuasnya. Sementara orang tua mengawasi sambil cemal cemil dari jauh #lah
Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali


Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali

Di area ramah anak ini nuansanya lebih menghijau, dan teduh jadi memang lebih nyaman untuk anak anak bermain meskipun suasana sedang panas. Saat itu, kebetulan ada bazaar, jadi terlihat ramai, cuman saya tidak sempat masuk ke area tersebut. Saya dan Pak Su mlipir ke pantai, meskipun lagi panas cuacanya, senengnya memang cari masalah yah...

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Terlihat terik sangat ya, saat kami kesana memang tengah hari, waktu yang sangat tidak direkomendasikan untuk ke pantai, kecuali memang ingin membakar kulit hehehe. Kalaupun terpaksa ke pantai bisanya siang hari sebaiknya, wajah dan kulit tangan maupn kaki sudah diolesi salep khusus atau sunblock, pakai baju lengan panjang, topi dan kaca mata hitam. Sehingga bisa meminimalisir ketidaknyaman saat menikmati pantai.



Selasa, 19 Maret 2019

Jalan jalan ke pasar seni ubud

Ubud, terkenal dengan udara pegunungannya yang sejuk dan segar dengan pemandangan alamnya yang hijau. Pemandangan sawah berundak juga termasuk spot berfoto favorit bagi wisatawan manca maupun domestik. Tidak heran ya, kalo ubud selalu menarik untuk dikunjungi.

Weekend kemarin, saya sempatkan jalan jalan ke ubud, tapi perjalanan kali ini bukan untuk melihat sawah ubud yang masyur itu, rencananya ke pasar, pasar seni ubud tepatnya, mumpung ada kesempatan, karena tidak setiap weekend bisa jalan jalan, jadi begitu ada kesempatan, cuzz lah yaaa :) 

Pasar Seni Ubud terletak di Jalan Raya Ubud no 35. Jika berangkat dari denpasar, waktu yang ditempuh sekitar satu jam, dengan jarak tempuh 23,7 km. Jika berangkat dari kuta, waktu yang ditempuh bisa mencapai kurang lebih 1 jam 8 menit sejauh 34,1 km, sedangkan jika berangkat ke ubud dari canggu bisa lebih cepet, yaitu kurang lebih 55 menit dengan jarak tempuh 28,2 km. Tapi, kalo dari Seminyak, waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam an 9 menit menempuh jarak 30 km. Tentu saja, itu semua masih perkiraan, kalau sudah jalan, akan dipengaruhi juga kondisi jalan raya dan cuaca, apalagi jika menggunakan motor biasanya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Apalagi jalan di sekitaran ubud biasanya sempit dan seringnya macet.


Pasar Seni Ubud

Minggu, 10 Maret 2019

5 Tempat Makan Instagenik dan Halal di Denpasar

Tinggal di Bali itu nyenengin. atmospherenya beda, everyday is holiday, santai berasa di pantai hehe. Tidak saja saya, beberapa temen yang seneng bolak balik ke bali baik untuk kerjaan ataupun liburan juga punya pikiran yang sama. Dan saya, sudah hampir tiga tahun tinggal di bali mengamininya.
Bayangkan saja gimana enggak hepi, pantainya aja berjejeran di sepanjang uluwatu, jimbaran, kuta, canggu. Itu baru di daerah bali bawah, belum pantai di karangasem di bagian bali atas. Keindahan alam di seputaran gunung agung, ubud ataupun desa wisata penglipuran yang asri nan otentik. Semuanya ada, dan kapan saja saya bisa mengunjunginya.

Tapi meskipun semuanya indah dan bikin hepi, tetap saja ada beberapa yang ga bikin hepi, salah satunya saat ingin berwisata kuliner. Maksud saya, makanan halal sih lumayan mudah di cari ya, karena warung muslim sudah lumayan banyak. Misal, warung makanan rumahan, yang menjual masakan rumah, pecel lele ataupun seafood. Cuman, seandainya pingin sesekali nongki cantik di cafe yang instagenic, harus lumayan aware dengan menu yang tersedia. Karena kebanyakan, menu yang ada mengandung babi, terutama cafe cafe hits di daerah yang banyak sekali dikunjungi wisatawan luar negeri. Sedih juga sih, padahal sesekali pingin nongki juga ditempat itu, apalagi ambiance tempat itu terlihat cozy dan makanannya terlihat enak (well done  Food Fotografer :) )

Tapi, setelah beberapa lama tingal di bali, akhirnya nemu juga tempat makan yang halal ( yang tidak mengandung daging babi ) yang bisa saya kunjungi, tidak saja untuk icip icip masakannya yang enak, juga buat saturdate bersama suami ataupun nongki cantik bersama teman. Berikut 5 tempat makan hits dan halal di seputaran denpasar, yang mungkin berguna juga bagi muslim traveller yang peduli dengan kehalalan makan selagi berwisata kuliner dan hunting cafe yang instagenic.


Kuliner halal di Bali



1. Warung Blaster

Tempat makan ini berada di Jalan Tukad Batang Hari, Denpasar. Pertama kali kesini, karena diajak meet up kolega suami dan ditraktir makan malam, alhamdulillah yah, rejeki suami soleh hehe. Saat itu baru awal awal di buka, menunya kombinasi dari masakan nusantara dan western. Dan tiap kali saya kesana, dengan pilihan menu yang berbeda, selalu sama rasanya, enak. Recommend sih steak salmonnya, enak banget. 




Rabu, 06 Maret 2019

Nyepi di Bali

Time flies.

Ga terasa, tahun ini sudah tahun ke-3 saya tinggal di bali, dan ini kali ke-3 saya ikut merasakan suasana Nyepi, dua kali, tepatnya. Karena tahun ke-2, hari raya Nyepi  jatuh pada tanggal 17 maret hari sabtu, yang berarti weekend, jadi, mumpung liburan, sekalian saja saya dan suami mlipir ke Gili Trawangan. Cerita tentang Gili Trawangan bisa di ikutin  disini yaa.

Kalau mau flashback sebentar, seru juga lho pengalaman pertamanya. Ingat gimana penasarannya saya,  Sesepi apa? Semuanya kepikiran, sampai suatu hari ngobrol dengan seorang teman yang sudah lama ( banget ) tinggal di Bali. Dari sharing pengalamannya terdengar tidak seberat imaginasi saya. Kalau diperhatikan, menjelang Nyepi, umat Hindu di bali disibukkan dengan tradisi dan upacara sebagai rangkaian hari Raya Nyepi.

1. Tradisi Melasti, tradisi ini dilakukan tiga hari atau dua hari sebelum hari raya Nyepi. Melasti berasal dari dua kata mala dan asti. Artinya, menghilangkan segala hal buruk untuk kebaikan, keheningan dan keharmonisan alam semesta. Tradisi Melasti ini dilaksanakan di beberapa pantai di Bali.

2. Tawur Kesanga, upacara ini dilaksanakan sehari sebelum hari raya Nyepi, yaitu pada tilem sasih kesanga. Tujuan tawur kesanga ini untuk membebaskan alam semesta dari buta kala dan malapetaka.

arakan ogoh ogoh sebelum nyepi


Senin, 04 Maret 2019

Car Free Day - Literasi Digital di Lapangan Renon

Setiap minggu, sudah jadi hal yang lumrah jika akses menuju lapangan puputan niti manggala atau lapangan monumen Braji Denpasar akan ditutup guna mengakomodir warga denpasar berolah raga atau rekreasi, di daerah itu memang diterapkan Car free Day dari pukul 06:00 WITA  smpai dengan pukul 10:00 WITA.

Tapi, Car Free Day minggu ini ( 3 maret 2019 ) berbeda dari minggu minggu sebelumnya, tampak lebih ramai dengan berbagai macam kelompok warga yang berolah raga, membuka stand makanan dan minuman, stand kesehatan - cek gula darah dan tensi gratis, bahkan tampak mobil perustakaan keliling terparkir di salah satu pinggiran lapangan niti manggala. 

Permainan Edukasi


Minggu, 24 Februari 2019

Kulineran ala Vegan di KYND Community

Jadi ceritanya begini, salah seorang teman baik di Jogja, sedang ada keperluan di Bali. Nah, weekend ini, kami sudah janjian untuk jalan jalan berdua, refresh dari rutinitas sehari hari. Mumpung berjodoh waktunya, kami sepakat untuk kulineran saja, rencana awal sih mbolang memantai seperti tahun sebelumnya, cuman karena satu dan lain hal, akhirnya kami sepakat buat nongky cantik di cafe vegan di daerah seminyak, sekalian ngobrol ngalor ngidul membahas apapun yang terlewat selama kami berjauhan heheh berasa LDR an aja ya...

Kuliner Halal di Bali

Setelah pilih pilih beberapa kandidat tempat meet up yang pas dengan suasana hati dan kantong, kami memilih Kynd Community di daerah kerobokan, seminyak. Ngulik di sosmed sih tempatnya instagramable, meskipun penampakan depan kafe sangat biasa.  Ternyata pas kami kesana, Kafe vegan ini sedang ramai dikunjungi dan almost semua pengunjung kafe di dominasi wisatawan bule. Not to mention, kami harus antri, menunggu sekitar 10 sd 15 menit hanya untuk bisa masuk kafe vegan ini. Ya sudah, terlanjur  jauh dari denpasar datang ke seminyak, males balik lagi. Lagian bukan kami saja kok yang mau antri, rombongan bule yang antri di depan kami juga harus menunggu dulu. So, kami diarahkan ke bagian depan kafe untuk menunggu, di tempat itu ada counter Ice Cream juga, jadi sambil nunggu bisa sekalian beli ice cream. Tricky ya? alih2 beli ice cream, saya dan Liao mengisi waktu dengan foto sesi heheh, dalam hal ini, kami satu frekuensi. Tau kan maksudnya :)



Rabu, 20 Februari 2019

Homemade Madu Super Enzim

Madu Super Enzim
Pertama kenal ramuan ini, homemade madu super enzim karena follow dokter Zaidul Akbar di instagram, beliau seorang dokter yang peduli untuk menghidupkan jurus sehat Rasullullah, setelah beberapa lama nyimak postingan postingan beliau kok sepertinya seru juga ya kalau ikutan coba. Sebenarnya banyak banget ilmu yang di share, tapi baru beberapa yang bisa ikutan dipraktekin. Contohnya ya konsumsi madu super enzim ini.

Sabtu, 16 Februari 2019

Pengalaman City Tour Kualalumpur 4 Hari 3 Malam - Part 3


Di hari ke-3, semuanya berjalan tidak selancar hari pertama dan kedua, Mulai ada drama yang bikin liburan tidak terasa begitu nikmat. 

Pertama adalah 

Baru tahu kalau kartu Debit BNI tidak bisa lagi untuk tarik tunai di atm bank luar negeri meskipun ada logo atm kerjasama. Tapi bagi pemegang kartu BCA masih bisa kok tarik tunai di atm bank luar negeri yang ada logo atm kerjasama. Karena ketidak tauan itu, Sempet jalan, muterin daerah imbi nyari atm yang bisa tarik tunai :p


Pengalaman City Tour Kualalumpur 4 Hari 3 Malam - Part 2


Setelah energi pulih kembali, perjalanan dilanjutkan. Kali ini, kami memilih transportasi RapidKL (RapidKl itu terdiri dari kereta jenis MRT, LRT, Monorail) dari station masjid jamek turun ke station pasar seni, jalan kaki sebentar, sampailah kita ke central market. Konon, katanya kalau central market ini sekelas mirota batik di Yogyakarta, jadi, kalau mau beli souvenir dan oleh2 tidak terlalu murah juga karena kualitasnya sedikit lebih baik dibanding barang barang di petaling street, tapi itu katanya lho ya, saya sendiri belum sempet ke petalling street, rencananya di hari ke 3 tapi ternyata batal karena udah terlalu capek :)

Jumat, 15 Februari 2019

Pengalaman City Tour Kualalumpur 4 hari 3 malam - Part 1

Bertepatan dengan syukuran atau bahasa kerennya anniversary suami, awal February 2019 lalu, kami berlibur ke kualalumpur. Seneng juga rasanya menyambangi saudara serumpun. Apalagi, jika berkunjung ke negeri Jiran ini tidak perlu menggunakan visa. Singkat cerita, setelah kurang lebih 3 jam terbang dengan Malaysia Airlines dari bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Pukul 5 sore MST kami tiba di kualalumpur. Alhamdulillah, pesawat mendarat dengan selamat di bandara KLIA. 

Kamis, 14 Februari 2019

Menikmati Perjalanan ke Temanggung dari Bali via Jalur Utara

November 2018, ada tantangan yang harus dilakukan. Karena satu dan lain hal, pulang kampung kali ini harus bawa kendaraan sendiri. Beda dengan perjalanan mudik lebaran tahun lalu yang diselingi dengan plesiran ke Baluran Banyuwangi dan jalan jalan ke Tunjungan Surabaya,  mudik kali ini murni terusan ke kampung halaman. Hanya singgah sebentar ke beberapa kota dan menginap satu malam di surabaya.
Dari pengalaman sebelumnya, pak su yang bertugas jadi sopir sempat kelelahan dan sempat microsleeping dalam perjalanan, which is berbahaya, maka, mudik kali ini, itinerary lebih disiapkan dengan riset informasi jalur perjalanan darat bali ke jawa yang lebih aman dan nyaman. Setelah ngulik info sana sani, akhirnya diputuskan untuk ambil jalur utara. Denpasar - Gilimanuk - Banyuwangi - Situbondo - Probolinggo - Surabaya - Ngawi - Solo dan pemberhentian terakhir, Temanggung.

Rabu, 13 Februari 2019

Rafting di Waja River Bali

Rafting bukan sesuatu yang baru bagi saya, sebelumnya pernah juga ikutan Rafting di sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah bersama teman teman kuliah. Aktifitas outdoor ini memang seru dan menantang. Jadi meskipun bertahun tahun setelahnya diajak rafting tetap saja antusias rafting di Sungai Waja Karangasem Bali.


Rafting di Bali paling asyik di Waja River



Jadi ceritanya, kantor suami lagi ada outing, supaya tidak repot, kerja sama dengan my bali wisata, sebuah agen travel dan wisata yang mengedepankan wisata halal di Bali. Jadi selama berwisata, tidak perlu kuatir dengan halalnya makanan yang disediakan dan disediakan waktu untuk menjalankan sholat bagi peserta wisata.  Nah bagi anda muslim dan muslimah yang tinggal atau sedang ingin berlibur di bali, boleh atuh memakai jasa agen travel ini :)


Selasa, 12 Februari 2019

Menu Serba Tahu, Enak.

Nah, kemari saya sudah janji akan mengulas tentang Cafe Tahu, tempat kami makan siang selama  perjalanan pulang dari danau Beratan. Lokasinya sih lumayan jauh danau Beratan, kalo dari arah denpasar, Cafe Tahu ini terletak di sebelah kanan jalan. Tepatnya di Km.37, Bedugul, Jl. Raya Denpasar, Mekarsari, Baturiti, Kabupaten Tabanan.
Seperti yang saya sampaikan di artikel sebelumnya, Pura Ulun Danu di Danau Beratan Cafe Tahu itu sekilas kurang menarik dan tersembunyi, tapi ternyata begitu masuk, areanya luas. memang konsep cafenya terbuka. Kami, para pelanggan tinggal memilih tempat makannya yang biasa atau di jajaran gazebo.
Wisata kuliner sekitar Pura Ulun Danu


Senin, 11 Februari 2019

Pura Ulun Danu di Danau Beratan

Akhirnya kesampaian juga mengunjungi Pura Ulun Danu yang legendaris itu.
Pasti dong se-Indonesia Raya sudah mengenalnya, itu lho yang tercetak indah di lembaran biru pecahan uang 50.000 rupiah. Saking terkenalnya, beberapa wisatawan berfoto di depan pura tersebut berpose memamerkan lembaran uang lima puluh ribu dengan berbagai gaya, saya pun rencananya begitu, tapi, urung juga dilakukan.
Pura populer di bali Pura Ulun Danu


Minggu, 10 Februari 2019

Sebelum Kabut Turun di Dieng

Dieng membeku.
Begitu berita ( bulan bulan awal 2018 ) yang bersliweran di sosmed lengkap dengan video dan foto foto kondisi dieng yang tertutup butiran es. Masyaallah, ga bisa dibayangkan deh, seandainya saya ngetrip ke dieng pada saat kondisi cuaca yang seperti itu. Alhamdulillah, Liburan lebaran kemarin, cuaca di Dieng sedang bersahabat, meskipun diwanti wanti sama temen saya, sebaiknya kalo ke dieng berangkatnya pagi ( dari Temanggung, saya berangkat jam 7 ) karena setelah jam 11 siang kabut mulai turun. Dan bener saja, dalam perjalanan turun menuju wonosobo kota, kabut mulai turun saat saya dan suami sampai di gardu pandang.
perjalanan wisata ke dieng wonosobo


Kamis, 07 Februari 2019

Aturan Kerajaan Untuk Melindungi Putri Bangsawan

royal wedding 
Meskipun pernikahan agung atau Royal Wedding Pangeran Harry dan Meghan Markle sudah berlalu, tapi topik ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat umum, di belahan dunia, Eropa, Amerika bahkan Asia. Dari pantauan berita yang bertebaran di instagram, sampai saat ini, demam royal wedding ini masih seru terasa. Netizen menaruh perhatian besar terhadap Duchess of Sussex (gelar yang diberikan kepada Megan Markle setelah menikah dengan pangeran Harry) tidak hanya kehidupan lama Meghan sebagai artis hollywood, feminist dan pekerja sosial atau kehidupan Megan sekarang setelah menjadi anggota kerajaan.


On Instagram

© Happylikeabee. Made with love by The Dutch Lady Designs.