Minggu, 24 Maret 2019

Beach Club Artotel di Sanur

Sepekan lalu, jalan jalannya puas banget, cuci mata di pasar seni ubud, setelah itu meluncur turun ke sanur, menikmati pemandangan pantai sambil ngadem di beach club Artotel. Iya, memang seniat itu, karena tidak setiap weekend, Pak Su bisa menemani jalan jalan. Sharing pengalaman ke pasar seni ubud pekan lalu bisa diikuti  disini ya.

Ceritanya, setelah puas ngiderin pasar seni Ubud, kami memutuskan untuk kembali turun, makan siangnya di daerah Sanur. Saat itu, udara siang Bali memang sedang panas, bahkan ketika masih di daerah Ubud pun sudah terasa. jadi, idenya sih pengen ngadem, istirahat sekaligus makan siang tapi masih bisa nongki cantik dengan pak Su. Seperti nyambung dengan apa yang sedang saya pikirkan, Pak Su mengarahkan perjalanan ke Sanur dan langsung deh, masuk ke Beach Club Artotel. Dari situ saya sudah tau mau diajak nongki cantik di dekat pantai, Alhamdulillah. Pengalaman wisata kuliner yang baru lagi.



Begitu masuk lobby beach club Artotel Sanur, kami sudah disambut oleh salah seorang karyawan, menanyakan berapa orang sambil mengarahkan kami pada sebuah meja kursi di samping kolam renang. Tadinya mau milih yang deket pantai, tapi kok terlihat panas ya, meskipun ada kanopinya, jadi tetap ambil yang di dekat kolam renang. Adem.

Beach Club di Sanur Bali

Bagi muslim traveller yang emang ketat soal makanan dan menghindari restoran yang ada menu pork nya, beach club ini bukan pilihan. Karena, ternyata menunya ada yang mengandung pork (daging babi). Tapi, beberapa menu yang disajikan merupakan makanan vegan dan healthy food yang mungkin masih bisa dimakan. Seperti saya saat itu memilih menu vegan, bakmi goreng ala thailand yang gluten free dan whole coconut alias air kelapa. Sedangkan Pak Su memilih splash orange dan burger. Sekilas review makanannya, menurut saya okay, lumayan enak. Terutama bakmi gorengnya, kalau burgernya sih kurang sesuai sama lidah saya heheh

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Wisata Kuliner di Sanur Bali

Beach Club Sanur Bali

Bagi pecinta beach club, pasti udah tau rasanya leyeh leyeh menikmati hidangan makanan sambil menikmati pemandangan pantai. Namun, kalau sudah pernah ke Rock Bar ataupun Woo Bar, beach club ini masih terasa biasa. Tapi jangan mengkerut dulu ah, salah satu kelebihan beach club ini adalah lebih ramah anak, karena selain kolam reangnya yang deket dengan meja kursi makan, kemudian ada penjaga khusus untuk mengawasi anak anak yang sedang berenang, di beach club ini ada area bermain anak anak yang lumayan luas. Sehingga mereka bisa bermain sepuasnya. Sementara orang tua mengawasi sambil cemal cemil dari jauh #lah
Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali


Beach Club Ramah Anak di Sanur Bali

Di area ramah anak ini nuansanya lebih menghijau, dan teduh jadi memang lebih nyaman untuk anak anak bermain meskipun suasana sedang panas. Saat itu, kebetulan ada bazaar, jadi terlihat ramai, cuman saya tidak sempat masuk ke area tersebut. Saya dan Pak Su mlipir ke pantai, meskipun lagi panas cuacanya, senengnya memang cari masalah yah...

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur Bali

Terlihat terik sangat ya, saat kami kesana memang tengah hari, waktu yang sangat tidak direkomendasikan untuk ke pantai, kecuali memang ingin membakar kulit hehehe. Kalaupun terpaksa ke pantai bisanya siang hari sebaiknya, wajah dan kulit tangan maupn kaki sudah diolesi salep khusus atau sunblock, pakai baju lengan panjang, topi dan kaca mata hitam. Sehingga bisa meminimalisir ketidaknyaman saat menikmati pantai.



Selasa, 19 Maret 2019

Jalan jalan ke pasar seni ubud

Ubud, terkenal dengan udara pegunungannya yang sejuk dan segar dengan pemandangan alamnya yang hijau. Pemandangan sawah berundak juga termasuk spot berfoto favorit bagi wisatawan manca maupun domestik. Tidak heran ya, kalo ubud selalu menarik untuk dikunjungi.

Weekend kemarin, saya sempatkan jalan jalan ke ubud, tapi perjalanan kali ini bukan untuk melihat sawah ubud yang masyur itu, rencananya ke pasar, pasar seni ubud tepatnya, mumpung ada kesempatan, karena tidak setiap weekend bisa jalan jalan, jadi begitu ada kesempatan, cuzz lah yaaa :) 

Pasar Seni Ubud terletak di Jalan Raya Ubud no 35. Jika berangkat dari denpasar, waktu yang ditempuh sekitar satu jam, dengan jarak tempuh 23,7 km. Jika berangkat dari kuta, waktu yang ditempuh bisa mencapai kurang lebih 1 jam 8 menit sejauh 34,1 km, sedangkan jika berangkat ke ubud dari canggu bisa lebih cepet, yaitu kurang lebih 55 menit dengan jarak tempuh 28,2 km. Tapi, kalo dari Seminyak, waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam an 9 menit menempuh jarak 30 km. Tentu saja, itu semua masih perkiraan, kalau sudah jalan, akan dipengaruhi juga kondisi jalan raya dan cuaca, apalagi jika menggunakan motor biasanya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Apalagi jalan di sekitaran ubud biasanya sempit dan seringnya macet.


Pasar Seni Ubud

Minggu, 10 Maret 2019

5 Tempat Makan Instagenik dan Halal di Denpasar

Tinggal di Bali itu nyenengin. atmospherenya beda, everyday is holiday, santai berasa di pantai hehe. Tidak saja saya, beberapa temen yang seneng bolak balik ke bali baik untuk kerjaan ataupun liburan juga punya pikiran yang sama. Dan saya, sudah hampir tiga tahun tinggal di bali mengamininya.
Bayangkan saja gimana enggak hepi, pantainya aja berjejeran di sepanjang uluwatu, jimbaran, kuta, canggu. Itu baru di daerah bali bawah, belum pantai di karangasem di bagian bali atas. Keindahan alam di seputaran gunung agung, ubud ataupun desa wisata penglipuran yang asri nan otentik. Semuanya ada, dan kapan saja saya bisa mengunjunginya.

Tapi meskipun semuanya indah dan bikin hepi, tetap saja ada beberapa yang ga bikin hepi, salah satunya saat ingin berwisata kuliner. Maksud saya, makanan halal sih lumayan mudah di cari ya, karena warung muslim sudah lumayan banyak. Misal, warung makanan rumahan, yang menjual masakan rumah, pecel lele ataupun seafood. Cuman, seandainya pingin sesekali nongki cantik di cafe yang instagenic, harus lumayan aware dengan menu yang tersedia. Karena kebanyakan, menu yang ada mengandung babi, terutama cafe cafe hits di daerah yang banyak sekali dikunjungi wisatawan luar negeri. Sedih juga sih, padahal sesekali pingin nongki juga ditempat itu, apalagi ambiance tempat itu terlihat cozy dan makanannya terlihat enak (well done  Food Fotografer :) )

Tapi, setelah beberapa lama tingal di bali, akhirnya nemu juga tempat makan yang halal ( yang tidak mengandung daging babi ) yang bisa saya kunjungi, tidak saja untuk icip icip masakannya yang enak, juga buat saturdate bersama suami ataupun nongki cantik bersama teman. Berikut 5 tempat makan hits dan halal di seputaran denpasar, yang mungkin berguna juga bagi muslim traveller yang peduli dengan kehalalan makan selagi berwisata kuliner dan hunting cafe yang instagenic.


Kuliner halal di Bali



1. Warung Blaster

Tempat makan ini berada di Jalan Tukad Batang Hari, Denpasar. Pertama kali kesini, karena diajak meet up kolega suami dan ditraktir makan malam, alhamdulillah yah, rejeki suami soleh hehe. Saat itu baru awal awal di buka, menunya kombinasi dari masakan nusantara dan western. Dan tiap kali saya kesana, dengan pilihan menu yang berbeda, selalu sama rasanya, enak. Recommend sih steak salmonnya, enak banget. 




Rabu, 06 Maret 2019

Nyepi di Bali

Time flies.

Ga terasa, tahun ini sudah tahun ke-3 saya tinggal di bali, dan ini kali ke-3 saya ikut merasakan suasana Nyepi, dua kali, tepatnya. Karena tahun ke-2, hari raya Nyepi  jatuh pada tanggal 17 maret hari sabtu, yang berarti weekend, jadi, mumpung liburan, sekalian saja saya dan suami mlipir ke Gili Trawangan. Cerita tentang Gili Trawangan bisa di ikutin  disini yaa.

Kalau mau flashback sebentar, seru juga lho pengalaman pertamanya. Ingat gimana penasarannya saya,  Sesepi apa? Semuanya kepikiran, sampai suatu hari ngobrol dengan seorang teman yang sudah lama ( banget ) tinggal di Bali. Dari sharing pengalamannya terdengar tidak seberat imaginasi saya. Kalau diperhatikan, menjelang Nyepi, umat Hindu di bali disibukkan dengan tradisi dan upacara sebagai rangkaian hari Raya Nyepi.

1. Tradisi Melasti, tradisi ini dilakukan tiga hari atau dua hari sebelum hari raya Nyepi. Melasti berasal dari dua kata mala dan asti. Artinya, menghilangkan segala hal buruk untuk kebaikan, keheningan dan keharmonisan alam semesta. Tradisi Melasti ini dilaksanakan di beberapa pantai di Bali.

2. Tawur Kesanga, upacara ini dilaksanakan sehari sebelum hari raya Nyepi, yaitu pada tilem sasih kesanga. Tujuan tawur kesanga ini untuk membebaskan alam semesta dari buta kala dan malapetaka.

arakan ogoh ogoh sebelum nyepi


Senin, 04 Maret 2019

Car Free Day - Literasi Digital di Lapangan Renon

Setiap minggu, sudah jadi hal yang lumrah jika akses menuju lapangan puputan niti manggala atau lapangan monumen Braji Denpasar akan ditutup guna mengakomodir warga denpasar berolah raga atau rekreasi, di daerah itu memang diterapkan Car free Day dari pukul 06:00 WITA  smpai dengan pukul 10:00 WITA.

Tapi, Car Free Day minggu ini ( 3 maret 2019 ) berbeda dari minggu minggu sebelumnya, tampak lebih ramai dengan berbagai macam kelompok warga yang berolah raga, membuka stand makanan dan minuman, stand kesehatan - cek gula darah dan tensi gratis, bahkan tampak mobil perustakaan keliling terparkir di salah satu pinggiran lapangan niti manggala. 

Permainan Edukasi


On Instagram

© Happylikeabee. Made with love by The Dutch Lady Designs.