Selasa, 19 Maret 2019

Jalan jalan ke pasar seni ubud

Ubud, terkenal dengan udara pegunungannya yang sejuk dan segar dengan pemandangan alamnya yang hijau. Pemandangan sawah berundak juga termasuk spot berfoto favorit bagi wisatawan manca maupun domestik. Tidak heran ya, kalo ubud selalu menarik untuk dikunjungi.

Weekend kemarin, saya sempatkan jalan jalan ke ubud, tapi perjalanan kali ini bukan untuk melihat sawah ubud yang masyur itu, rencananya ke pasar, pasar seni ubud tepatnya, mumpung ada kesempatan, karena tidak setiap weekend bisa jalan jalan, jadi begitu ada kesempatan, cuzz lah yaaa :) 

Pasar Seni Ubud terletak di Jalan Raya Ubud no 35. Jika berangkat dari denpasar, waktu yang ditempuh sekitar satu jam, dengan jarak tempuh 23,7 km. Jika berangkat dari kuta, waktu yang ditempuh bisa mencapai kurang lebih 1 jam 8 menit sejauh 34,1 km, sedangkan jika berangkat ke ubud dari canggu bisa lebih cepet, yaitu kurang lebih 55 menit dengan jarak tempuh 28,2 km. Tapi, kalo dari Seminyak, waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam an 9 menit menempuh jarak 30 km. Tentu saja, itu semua masih perkiraan, kalau sudah jalan, akan dipengaruhi juga kondisi jalan raya dan cuaca, apalagi jika menggunakan motor biasanya lebih cepat daripada menggunakan mobil. Apalagi jalan di sekitaran ubud biasanya sempit dan seringnya macet.


Pasar Seni Ubud



Sejujurnya, setelah dua tahun lebih tinggal di bali, baru sekarang berkeinginan mengunjungi pasar seni ubud. Dan demi memenuhi keinginan window shopping di pasar yang menjadi latar film Eat, Pray and Love nya Julia Robert itu, saya ikhlas sedikit mengeluarkan effort. Termasuk saat mencari parkir. Sedikit saran, jika bisa, idealnya memang ke ubud itu naik motor karena selain jalannya sempit, kadang satu arah, juga memudahkan untuk mencari spot parkir. Tapi, kalau memang sudah terlanjur bawa mobil, sebaiknya parkir di ubud central park yang letaknya lumayan jauh dari lokasi pasar. Atau bisa juga sewa mobil yang satu paketan dengan supirnya, jadi  tinggal di drop di depan pasar, trus nanti dijemput lagi. Gimana lagi, emang susah cari tempat parkir di sekitar pasar seni ubud, apalagi kalau sampai sana sudah siang. Selamat ya! bakalan susah cari tempat parkir, disamping itu, jika niat untuk foto foto, hasilnya kurang bagus #eh. Dari pengalaman sih, idealnya ke pasar ubud di waktu pagi hari, selain karena udaranya masih seger, dan konon kalau di pagi hari bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah, dan yang terpenting waktu yang pas buat foto sesi #halah.

Pasar Seni Ubud

Pasar seni ubud, terkenal karena kerajinan seninya yang beraneka macam, mulai dream catcher, tas 'raisa' ataupun kerajinan kaca yang ciamik. beneran, tidak akan bosan melihat semua barang barang homemade yang kualitasnya bagus. Cuman, memang harus berani menawar, karena biasanya saat ditanya, pedagang ngasih harga tinggi dulu, baru kalau kita sungguh sungguh beli dan pintar menawar, bisa dapat barang bagus dengan harga yang pas. Selain seni menawar, yang menarik dari pasar seni ubud ini, para pedagang yang cuek banget dan mungkin sudah terlalu biasa melihat pengunjung ataupun calon pembeli berpose di depan lapaknya, hihi geli juga sih, ngeliatnya, apalagi saya termasuk didalam golongan pengunjung yang ambil kesempatan pose sambil window shopping. Ga papa kan untuk promosi juga, kilahnya :) oh ya, kalau buat foto foto emang sebaiknya datang di sore hari, tapi jangan kesorean juga ya, soalnya pasar seni ubud ini buka pada pagi hari jam 4 dan tutup pada pukul 6 petang WITA.

Dream Catcher di Pasar Seni Ubud



Tas Raisa Pasar Seni Ubud




Ternyata, jalan jalan di pasar siang hari itu memang sesuatu yaah, panas dan teriknya berasa sekali. Dehidrasi. Syukur alhamdulillah, di dalam pasar seni ubud juga terdapat cafe dan warung makan yang bisa menjadi penawar lapar dan dahaga. Beberapa stand Gelato juga ada, kita tinggal memilih mau yang mana. Malah ada juga kedai kopi, saat saya dan pak suami lewat, ada mas karyawan kedai kopi tersebut tengah bercengkerama dengan Luwak ( Paradoxurus hermaphroditus ) yang menjadikan kopi luwak terkenal didunia dan mahal.


Falafel Makanan Khas Timur Tengah


Cafe di Pasar Seni Ubud

Kopi Dan Luwak

Semua deretan kafe dan warung makan itu memang menggoda disaat terasa haus dan lapar, tapi pertimbangkan juga sih budgetnya, soalnya harga untuk whole Coconut itu Rp 30.000,00 dan satu scope es krim harganya Rp.30.000,00, mahal kan?! mungkin karena kebanyakan pengunjung Bule kali yak, karena selama saya jalan jalan di pasar seni ubud ini memang didominasi wisatawan mancanegara.

Jadi begitulah oleh oleh jalan jalan ke pasar seni ubuud, bali, weekend kemarin. Semoga ada kesempatan lagi ke ubud dengan tujuan jalan jalan lainnya...aamiin :)

Posting Komentar

On Instagram

© Happylikeabee. Made with love by The Dutch Lady Designs.